Stasiun Tugu dalam Kenangan (Fiksi)

Stasiun Tugu. Doc: Wikipedia

"Stasiun Tugu saya turunnya, ibu sendiri turun di mana?" Tenggorokan saya harus sedikit melebar agar suara yang terluncur tidak kalah oleh derap kereta. Kami selayaknya penumpang kelas ekonomi duduk berhadapan serta berdempetan di satu ruas bangku. Tiga orang di ruas kiri dan begitu juga di ruas kanan. Iya, saat itu belum ada revitalisasi di dunia perkeretaan Indonesia.

"Saya di stasiun Lempuyangan.Habis  itu naik bus dua kali lagi." Suara ibu paruh baya dengan balutan kebaya dan kain tersebut ternyata berhasil saya dengar. Sepertinya beliau biasa berjualan di pasar jadi lantang dan mengalun layaknya teriakan yang biasa terdengar dari bibir penjual. Tepat di kolong bawah bangkunya terlihat kotak besar bungkus mie instan. Mungkin beliau membawa oleh-oleh dari Jakarta, entah.

Yang menarik selain warna selendang batik yang beliau  lingkarkan di area leher adalah lipatan tangannya. Tersembul kertas yang dari awal kami bertemu sudah di genggamnya. "Tidak dijemput putranya bu?" Pertanyaan yang ahkirnya saya utarakan setelah menahan diri saat melihat kegelisahannya. Kereta masih melewati malam dan sampai di Jogja biasanya satu jam sebelum ayam jantan berkokok.

Satu jam yang lalu saya menyodorkan satu cup mie instan yang harus ditiup lama agar lidah tidak melepuh.Beliau menggelengkan kepala sesudah mengucapkan terima kasih. Ternyata dia sedang berpuasa senin kamis dan membuat saya terburu minta maaf. Anak Punk disamping saya tetiba bangun dari kantuknya seraya menatap ke arah tangkupan tangan kiri saya. Ternyata kepulan aroma Soto Ayam sampai di hidungnya.Sejurus kemudian dipanggilah abang penjual mie instan yang masih saja berteriak, "Pop mie, Kopi, Susu. Yang panas yang hangat!"

Setelah melompati beberapa penumpang yang duduk beralas koran di selasar tengah, akhirnya abang yang tadi ku beli  mienya datang kembali. Eh ternyata kopi bubuk yang anak Punk ini pesan. Hum mungkin dia sudah kenyang menghirup aroma mie rebus dari arahku. Hebat memang! 

Setelah semua penjual turun di stasiun berikutnya, saya memutuskan tidur sejenak. Tetap dengan posisi duduk berlipat tangan namun beruntung saya mendapat nomer di pinggir bangku. Memang sih kadang siku harus siap didesak aliran manusia yang hilir mudik menuju toilet kereta. Bangku kami memang tepat di samping pintu antar gerbong. Aroma urine kadang samar  datang. Untungnya jendela bagian atas di samping bangku sudah tak bisa ditutup, jadi udara segar bisa  leluasa masuk.

Kipas angin di atas atap kereta lumayanlah membantu penumpang bagian tengah walau saat tidur sangat mengganggu dengan deritnya.Saya berdoa agar ruas baling-balingnya tidak menyambar kepala penumpang. Dan kali itu bukan kipas angin lah yang membangunkan saya namun lonjakan rel kereta. Kembali saya melihat wanita paruh baya di bangku seberang, masih sibuk membaca kertas di tangannya.

"Vik bangun, sebentar lagi sampai di stasiun Tugu!" Bukan suara cempreng dari sahabat saya yang membuat mata terbuka, tapi aroma mie rebus. Semalam urung memesan karena ternyata harga di restoran kereta lebih berlipat. Eh tunggu kenapa juga pesan di resto kereta, bukannya di abang asongan juga bisa. Eh tunggu, kok bangkunya empuk lalu mana kipas anginnya? 

"Lu mimpi sampai mana Vik jadi bangun-bangun bengong gitu? "

" Ini tahun berapa?" 

"2018 lah, emang kenapa?"

"Bukan 2006?






Author

vika vika Fiksioner is a free template that suitable for personal blogging because the layout is like a journal.

14 komentar

  1. Tahun 2010/2011 sepertinya aku mengalami situasi itu. Terlalu sering naik ekonomi dan sampai paham pengemisnya bakalan itu lagi itu lagi.

    BalasHapus
  2. Ealah mbak..mimpi to...jadi penasaran,,kertas yang dibawa ibunya tadi tulisannya apa?

    BalasHapus
  3. aku membacanya dengan sangat serius ternyata itu adalah sebuah mimpi hahaha kisah 2006 ya mba Vika, kocak yang membuat bangun kie rebus dong bukan suara temannya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha iya mba, itu saya banget bangun karena arom makanan

      Hapus
  4. Saat baca judulnya, kirain mau cerita "kangen"sama stasiun Tugu karena efek pandemi covid-19 kan jadi harus stay at home, minimalkan bepergian.

    #btw, tahun 2006 ada apa hayyyo?

    BalasHapus
    Balasan
    1. pertama pengin gtu mba ceritanya, tapi berubah pas nulis..haha

      Hapus
  5. Ingatanku langsung melayang ke belasan tahun silam, waktu jalan-jalan ke Jakarta pulang perginya naik kereta ekonomi. Ahhh... tinggal kenangan.. Kangen dempet-dempetan, berdiri di antara gerbong, beli nasi bungkus lewat jendela kereta...

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi kenangan manis ya mba sekarang

      Hapus
  6. Mba Vika mengingatkanku kala naik kereta tahun 2016 lalu. Ke bandung, naik kereta ekonomi... sejak itu ogah naik kereta ekonomi, kapok... naik kereta kalau bisa kelas eksekutif atau pol bisnis...

    BalasHapus
  7. ibunya sepertinya mau nengok anaknya di Jogja po yaa...tapi blm pernah, jdi bekal alamat doang.

    vik...aku dadi pengen nggae indomie...padahal puasa :-D

    BalasHapus
  8. Aaaaaaakkkkk, jadi kangen aroma pop mie yang menyeruak di kereta saat perjalanan malam...wkwkwkwkw

    BalasHapus

Posting Komentar