Sabtu, 25 Juni 2016

Apakah Anda Oase di Dunia Maya?




Oase dalam wujud lain itulah yang Saya temukan saat menemukan profilnya walau sekedar membaca melalui media terhubung dengan layar komputer dan satelit. Memang Saya mengenalnya melalui media sosial yang dinamakan forum online bagi anak indigo sekitar dua tahun yang lalu. Dia unik karena dengan semangat membagi artikel tentang ajaran Budha lengkap dengan ilustrasi, bukan karena sisi indigonya. Saya merasa mulai dicerahkan tanpa digurui.
Sebut saja Erin dan Saya tidak memilih sebutan Bunga sebagai identitas samarannya, terlalu biasa dan dia bukan korban ataupun pelaku. Erin mempunyai keyakinan yang kuat akan karma, reinkarnasi dan Saya menghormatinya sama seperti dia melakukakan serupa. Beberapa kali melalui kami berdiskusi secara singkat dan tenang maupun panjang lebat penuh perdebatan yang melelahkan. Wajar karena kami mempunyai kesamaan yaitu keras kepala dan haus akan informasi baik pro maupun kontra.
Melalui dirinya Saya banyak belajar tentang nilai-nilai positif ajaran Budha dan belajar menerapakannya dalam keseharian walau tidak berpindah agama. Begitu juga sebaliknya dengan Erin, dan memang sejak di bangku sekolah yang notabene berbasis nasrani maka beberapa lagu rohani sudah hapal luar kepala.
Jika dipikir maka tiada nominal yang bisa dia peroleh dengan membagi artikel tersebut bahkan bila dihitung-hitung maka akan menyita waktu dan kouta internetnya. Saya menebak-nebak bahwa aktifitasnya di dunia maya hanya dalam hitungan hari namun ternyata berlanjut sampai detik saat Saya menuliskan kisah pertemanan kami. Saya mengaguminya walau belum mengatakannya secara lisan.
Memang artikel yang dipasang bukan hasil karyanya sendiri melainkan dari akun media sosial resmi komunitas namun Saya mengagumi konsistensinya. Setelah bercakap-cakap melalui bahasa teks melalui media pengiriman pesan menggunakan pulsa maka beberapa bulan kemudian kami bertambah dekat. Dan kami sepakat menggunakan lambang berwarna biru dengan salah satu huruf dalam deretan abjad.
Dia cenderung tertutup namun Saya tetap mendapati artikel-artikel mengenai ajaran Budha pada linimasa media sosialnya. Bagi Saya sangat menyenangkan bisa membaca informasi yang membangun secara spiritual walau Saya tidak memilih memeluknya secara resmi. Tentu saja dibutuhkan hati yang terbuka dan kemauan untuk bertoleransi.
Dan Saya memang masih belajar melalui relasi dengan yang berbeda keyakinan namun bersedia menjadi teman walau masih sebatas dunia maya. Kenapa Saya menyebutkan "bersedia" karena memang tak setiap orang mau menerima sesuatu yang berbeda dengan kelompoknya. Sebuah tingkah laku yang wajar untuk mempertahankan keberadaan kelompoknya.
 Bila tadi Saya menemukan oase pertama maka pertemanan dengan Rene merupakan hitungan kedua. Dia seorang petugas media sebuah rumah sakit di sebuah kota dimana Napoleon berwarga negara. Lagi- lagi Saya bisa berteman dengan wanita berambut perak tersebut dengan perantara media sosial biru tua dan berlambang saah satu abjad. Tentu wanita yang seangkatan dengan ibu Saya mempunyai keunikan walau bukan Indigo. Jangkauan spiritual yang sedikit berwarna lain dengan kebanyakan dan dia dengan konsisten juga menyuarakannya melalui linimasa.
 Kecenderungan untuk menyukai segala bentuk perwujudan alam sebagai sesuatu yang harus dijaga dan dihormati menjadikan Rene memilih menjadi vegetarian. Sebuah langkah yang membutuhkan proses penyesuaian baik fisik, mental serta pola pikir yang panjang tentu saja. Saya sendiri mulai belajar menjadi vegetarian saat berkenalan dengannya.
Saya menamakan dua homo sapiens tersebut sebagai oase karena berbeda dengan kebanyakan manusia yang menggunakan media sosial dengan motivasi yang merugikan. Memang mereka adalah oase kecil namun menyejukkan menurut Saya walau mungkin tidak untuk orang lain karena memang tiap pribadi mempunyai sudut pandang yang berbeda. Jumlah oase kecil memang selintas banyak namun mereka tak berkumpul dan saat berkumpul kadang mereka kehilangan keunikan pribadi lepas pribadi.
 Saya sering bergembira saat mendapati oase besar pada suatu masa namun perlahan mendapati mereka hanya bertepuk dada tanpa menjejakkan kaki ke dunia. Mereka seperti mahluk langit tanpa menyadari kalau masih menghirup oksigen dan memamah biak dengan atribut raga yang sama.Memang media sosial seperti pisau yang fungsinya tergantung sejauh mana kita mempergunakannya. 

Para netizen memang sering lupa bahwa tiap tombol, kata, gambar yang kita sumbangkan melalui papan elektronik merupakan kontribusi besar pada kehidupan. Tragisnya kita masih mendapati begitu banyak akun palsu di media sosial yang dipergunakan untuk melupakan bahwa manusia adalah pemeliharaan alam, dunia, dan seluruh penghuni termasuk di dunia maya. Saya pikir kita tak perlu memilih larut dalam debat argumen di media sosial yang kerap berujung pada penggunaan kata-kata yang jauh dari kesopanan.
Tentu menjadi berbeda memang membutuhkan keberanian yang sering menakutkan bagi banyak orang. Oase walau kecil tak perlu menjadi pasir walau berada di tengah padang kering serta tandus. Para musafir sejati tahu mana oase sejati dan fatamorgana semata. Jadi apakah Anda oase kecil di dunia maya?




Image: cienciorama.unam.mx, dainusantara.com, blog.toastedsnow.com, tealswan.com

Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog yang diselenggarakan oleh ICRS dan Sebangsa

#celebratediversity; #10tahunicrs.