Sabtu, 05 November 2016

Jelajah Gizi Sambal Ikan Roa, Saya Berani Mencicipinya?



[Image: 3.bp.blogspot.com]

Romansa. Tentu, meracik makanan khas diiringi angin dan dilindungi atap langit di daerah asalnya adalah sebuah momen menyentuh hati dan pasti memberikan cita rasa berbeda. Apalagi jika bahan yang diolah adalah hasil laut langsung diambil dalam keadaan segar. Kita sudah paham pasti bahwa hasil olahan laut mempunyai nilai gizi dan Nutrisi Untuk Bangsa. Ah sepertinya saya memerlukan Sempoa untuk menghitung banyak timbunan nutrisi dan gizi dalam tiap ruasnya. Tentu saya selaku penggemar hasil laut, sudah pasti kuliner terutama  berbahan ikan dan rekan sejawatnya mau jumlahnya sekilo juga aku tandaskan bahkan tanpa nasi sebagai pelengkapnya . Itu doyan apa lapar Vika?

[Image: topgayahidupblog.webgarden.com]
  Namun ada sedikit dilema walau mata berbinar membayangkan romansa nan romantis seperti bayangkanku di atas. Lebai alias hiperbola? Tidak bagi food blogger yang selalu jeli menangkap momen terutama makanan apalagi bisa memperbaiki gizi tubuh atau istilah kerennya Jelajah Gizi


[Image: topgayahidupblog.webgarden.com]

Perasaan bernama dilema itu yang aku alami saat mendengar tiga kosa kata yaitu Sambal Ikan Roa. Iya, karena sambel menjadi (biasanya) alternatif terahkirku saat memilih menu kuliner. Maklum pedas menjadi kosa kata yang selalu sukses membuat lidahku menggulung alias ketakutan. Jadi saat mengetahui salah satu menu khas Sulawesi Utara dari web resmi Sarihusada melalui  #JelajahGizi2016 adalah Sambal Ikan Roa, saya langsung menghitung kancing kaos. Jadi akankah aku berani mencicipi kuliner yang  pedas?
 [ Image: hardyminhard.wordpress.com]
Saya bergegas mencari data melalui media online serta menodong teman  yang tinggal di Sulawesi, tepatnya Palu, mengenai Sambel Ikan Roa. Kenapa saya sedemikian tertarik? Sebenarnya mencicipi Sambel Ikan Roa merupakan  tantangan bagi indera pencecapku, yang tak terbiasa tersentuh pedasnya cabe.Tentu sebagai blogger, saya mencari detail baik sejarah, bahan, cara mengolah, penyajian dan banyaknya toko online yang memasarkannya dalam bentuk kemasan. 

Sarihusada
Dan ternyata saya akan menyesal jika melewatkan kesempatan mengikuti Jelajah Gizi Minahasa mencicipi Sambel Ikan Roa langsung di tanah kelahirannya.  Yang jelas lidahku beranjak ingin mencicipi sensasi Sambel Ikan Roa. Duh, baru membayangkan dan syukur-syukur diperbolehkan membantu meraciknya saja saya sudah terserang romansa. Apa sih yang sudah saya  temukan dari sibuk mencari data? Mari kita baca fakta tentang Ikan Roa bersama ya:
1.    Ikan Roa atau Julungjulun sudah  dikonsumsi oleh masyarakat Sulawesi Utara secara turun temurun.
2.    Mirip Ikan Cucut karena bertubuh unik serta mulutnya berbentuk  paruh panjang  halus serta mengkilap serta mempunyai aroma yang khas.
3.    lkan Roa mengandung 1,9 gram karbohidrat,  energi  87 kalori, , 3,2 gram lemak dan 10,9 gram protein.
4.    Sambel Ikan Roa bisa dinikmati dengan Ubi dan Pisang Goreng  sebagai pendamping.
Sengaja aku tebalkan hurufnya karena alternatif pendamping Sambel Ikan Roa ini membahagiakan diriku. Sejauh yang aku ingat, selama ini hanya nasi yang menjadi teman setia dari lauk yang kunikmati.Apalagi Pisang Goreng adalah camilan kegemaranku karena mudah didapat dan mengolahnya. Bagimana ya rasa akhir dari perpaduan manisnya pisang dengan pedas serta gurihnya Ikan Roa?
5.    Cara memasak Sambal Ikan  Roa sebagai berikut:
a.    Tangkap Ikan Roa (Ya iyalah ditangkap dulu) bisa langsung di laut atau pasar ikan saja biar mudah.  (Gue banget biasanya tiap hari).
b.    Sisir kulit Ikan Roa dan ambil dagingnya. Haluskan dengan blender atau bisa ditumbuk jika ingin lebih alami proses mengolahnya.
c.    Sangrai Ikan Roa hingga aroma khasnya keluar kemudian tiriskan.
d.    Tumis bumbu sesuai resep dan masukan daging Ikan Roa.
e.    Dinikmati bersama Pisang Goreng.

Jadi apakah aku akan terbang ke Minahasa dan meracik secara  langsung Sambel Ikan Roa? Lets see ya. I Do the best, God take the rest