Selasa, 22 November 2016

"Terjebak" Aroma Daging di Tempe Dinner Experience





 [Image: Vika kurniawati]

Terjebak .Bagaimana tidak, jika indera penciuman dan penglihatan, sebelum ujung lidah menyentuh hidangan utama, mengatakan bahwa sajian di depan mata adalah Sate Daging Sapi. 55% yakin aroma daging menyusup ke indera penciumanku saat memegang satu tusuk sate dengan potongan berwarna-warni. Bentuk kotak mirip sekerat potongan daging berjejer rapi seraya memanggil untuk dicecap.
 
[Image: Riana Dewie]
Tanpa menghiraukan tumpukan lontong yang bersanding manis di piring, maka penggoda segera aku renggut tepat pada ujungnya. Dan saya mengalami dua kekecewaan yang berurutan terjadi. Kecewa yang pertama karena tidak langsung melahap dua kerat sekaligus, ha ha. Kekecewaan kedua karena indera penciuman dan indera penglihatan setengah tertipu dengan chef Tempe Dinner Experience  walau di daftar menu disebutkan bahwa  Velvet Bean Tempe Sate with Lontong ( Sate Tempe Benguk dengan Lontong )  menjadi hidangan utama.

Pastilah ini efek pengiriman data dari penciuman serta penglihatan yang diasosiasikan serta merta oleh otak. Memori tentang aroma sate yang pernah direkam keluar lagi dan mengidentifikasikan bahwa Tempe Dinner Experience saat itu adalah berbahan sama. Memang saya termasuk penggemar sate baik dari berbahan lemak sapi sampai codot (kelelawar kecil). Baik berbumbu saus kacang, kecap manis atau sekedar diolesi air garam.

[Riana Dewie]
Velvet Bean Tempe Sate with Lontong ( Sate Tempe Benguk dengan Lontong ) sebenarnya mengingatkan diriku akan Sate Kere ala Solo, yang juga memakai bahan olahan tempe sebagai pengganti daging. Bahan yang dipakai memang bebeda, yaitu Tempe Gembus yang bertekstur lembut dan mudah dikunyah, namun berbumbu hampir sama dengan Velvet Bean Tempe saat dibakar.

Well balik lagi ke Velvet Bean Tempe Sate ya, disamping sate beserta lontong saus kacang serta kecapnya, ada beberapa pelengkap lain yang berada disamping kanan kirinya. Ada kering tempe (lengkap dengan irisan kentang), dan juga krecek pedas. Begitu mengingatkan pada Gudeg yang sejak kecil  mudah didapatkan di Yogyakarta. Memakai picuk(mangkok dari daun pisang yang dirangkai) terdapat sambal, acar yang pas rasanya walau dalam porsi kecil. Yakin aku mau Velvet Bean Tempe Sate dengan lontong double ya.

[Riana Dewie]
Oya hidangan berjumlah 6 (yang akan saya kupas satu persatu di artikel selanjutnya) disajikan satu persatu oleh pelayan wanita. Dan ini mengingatkanku pada penyajian ala kerajaan atau saat jaman penjajahan dimana tuan tanah mengadakan perjamuan makan dengan koleganya. He- he inilah rasanya menjadi raja sehari.

Tempe Dinner Experience pada 7 November 2016 diadakan di Gadjah Wong Restaurant  Jalan Gejayan No. 79 Sleman Yogyakarta. Sebuah restoran yang hanya berjarak 15 menit dari rumahku dan terkenal dengan segmennya turis asing menengah keatas. Di ruang Kura-kura tersebut aku disuguhi dengan alunan musik Jawa yang langsung dinyanyikan oleh 3 sinden. Bener-bener mendayu dan romantis. 
 

For your information bahwa  3 hidangan Tempe diolah Chef Yani dari Gadjah Wong, dan  3 hidangan Tempeto di olah  Chef Roberto flore Head Culinary Research & Development at Nordic Food Lab dan berasal dari Sardinia.

 Jadi kapan kita dinner lagi kakak?