Sabtu, 28 Mei 2016

Cakap Bermedia Sosial namun Tetap Eksis.



Komik sebagai seni ke-sembilan bidang seni rupa memang paling saya gemari sejak kecil dari semua karya seni. Gambar-gambar tak bergerak yang terjalin oleh benang merah cerita yang dulu kerap membuat saya enggan mengalihkan perhatian ke hal yang lain. Dan saat Saya membaca buku Cakap Bermedia Sosial pada saat Diskusi Publik Cakap Bermedia Sosial pada 27 Mei 2016, maka lagi-lagi Saya jatuh cinta karena bisa menyimak dengan serius walau tetap berderai tawa. Komik yang didukung penuh oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RepublikIndonesia (KOMINFO) ternyata mendidik tanpa menggurui pembacanya. 

Dengan kemasan yang menarik, bukan saja karena warna dan jenis kertas yang dipilih namun juga ilustrasi yang segar namun sarat makna. Koboi dengan memakai seragam pelajar sibuk mengendalikan dinosaurus yang terlihat liar. Kulit dinosaurus bertuliskan beberapa nama yang sudah sering digunakan dalam dunia maya.
Buku dengan 145 halaman juga memuat beberapa quote sekaligus karikatur hitam putih dari tokoh penting yang berbenang merah tentang etika berkomunikasi. Dengan warna cerah maka quote terlihat menonjol tanpa terkesan norak. Para pembaca bisa memperoleh wawasan tentang sisi positif dan efek dunia medsos sekaligus menikmati seni rupa karya anak bangsa.


Segemtasi pembaca sendiri tidak terbatas pada anak muda namun bisa luas meliputi pekerja kantor, ibu rumah tangga, para lansia yang merasa prihatin akan kondisi di lingkungan yang terjadi. Pemilihan komunitas, cara mendapat penghasilan tambahan di dunia maya yang sehat juga menjadi topik menarik bagi masyarakat umum. Bagaimanapun juga kemajuan tehnologi memang bermata dua.
         Komiknya sendiri sederhana namun membuat jari terus bergerak ke halaman berikutnya. Dengan pemilihan dialog yang mengena, santai dan mampu membuat Saya mengingat apa yang terjadi di lingkungan sekitar. Kasus pornografi, judi, target penculikan, radikalisme melalui sarana media sosial juga disenggol dalam komik yang sangat Indonesia. 



Panduan dan etika dalam berinternet yang disajikan dalam karikatur berwarna menjadi halaman yang Saya cermati. Beberapa pasal dari UU ITE juga dicantumkan di bagian belakang buku sebagai bahan acuan dan pertimbangan sehingga kita bisa lebih bijak di dunia maya.


Dan memang bila buku yang notabene tidak diperjualbelikan tersebut bisa lebih mudah didapat dan disosialisasikan dengan masif maka terjadilah kesuksesan gerakan berinternet sehat. Segmentasi para pemuda yang sering terbawa atau dipaksa terhanyut oleh sisi negatif lingkungan perlu disasar terlebih dahulu.
Dari isi komik yang mengenalkan keuntungan baik segi materi maupun rohani bila melakukan aktivitas di medsos dengan bijak, Saya mendapati beberapa tips yang bermanfaat. Tips tentang update status, lima langkah smart terhindar dari pornografi, do and don'ts saat berselancar di dunia maya menjadi bagian yang patut diketahui banyak pembaca. Dan memang banyak bahan yang bisa dijadikan calon status di medsos dalam jangkuan Saya. 



Dan yang terpenting adalah para pengguna media sosial tetap bisa eksis tanpa harus negatif. Salah satu aktivis media sosial sekaligus dosen yang sudah menerapkan penggunaan media sosial dengan sehat adalah Rulli Nasrullah atau akrab dikenal dengan sebutan  Kang Arul. Beliau juga menjadi salah satu editor buku Cakap Bermedia Sosial yang eksis dengan dosengalau.com. 
 Jika Anda memerlukan informasi lebih lanjut mengenai buku dan cara mendapatkannya bisa menghubungi pihak yang berkompeten melalui twitter @kesrakominfo dan @kangarul. Salam Internet Cakap Cerdas Kreatif Produktif.