Selasa, 31 Mei 2016

LSF, Budaya Sensor Mandiri dan Kita.


 
Apa yang Anda pikirkan saat mendengar kata: Oshin? Bagi generasi 80-an tentu langsung tergambar dalam pikiran tentang semangat kerja keras yang berbuah kesuksesan. Oshin sendiri adalah tayangan drama Jepang yang disiarkan ulang oleh TVRI. Sangat booming pada masanya hingga pemeran utamanya diundang ke Indonesia. Saya pribadi dan pastinya sebagian besar penonton sangat terinspirasi dengan tontonan kami tersebut saat kecil. Dan memang saya dan teman-teman sebaya terpacu untuk selalu kerja keras, tabah dan tanpa melupakan kewajiban terhadap keluarga. 

Miris saat saya melihat seorang pengamen perempuan yang masih ingusan di sudut Kota Tua Jakarta, dia menirukan goyangan seorang penyanyi dangdut yang seronok. Dan parahnya dia tak sendiri, beruntun pengamen cilik lainnya melakukan hal serupa dihadapan pengunjung lain. Memang kita menjadi lebih paham bagaimana lingkungan sangat mempengaruhi dan memaksa kita melakukannya di kehidupan sehari-hari.
Anda lihat? Kita memang adalah apa yang kita tonton, dan tanpa sadar asupan tersebut mempengaruhi pola pikir serta tindakan setiap hari. Ingatan bawah sadar tersebut tidak hanya berlangsung singkat namun terus melekat selama kita hidup. Dan Saya pribadi bersyukur karena saat kecil memperoleh tontonan yang mendidik dan tersensor. Entah apa jadinya kalau Saya terkontaminasi tontonan yang tak mendidik.
Tentu pihak-pihak yang berwenang menyensor tayangan sinetron maupun film sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Seperti yang diketahui bahwa Lembaga Sensor Film (LSF) sudah melakukan langkah preventif demi layaknya penanyangan sebuah produk sinema baik film maupun iklannya. Sampai-sampai Lembaga Sensor Film (LSF) mendapat sebutan sebagai "polisi moral.” Sebenarnya Lembaga Sensor Film (LSF) tidak melakukan hal yang salah karena memang  bagian dari tugas LSF yang  menjalankan amanat Undang-undang RI No 33 Tahun 2009 tentang Perfilman yang menjadi payung hukum LSF.

Hal tersebut diungkapkan saat Saya mengikuti Roadblog Blogger Jogja yang didukung oleh LSF sebagai salah satu pihak yang memberikan materi sekaligus sosialisasi tentang kinerja Lembaga Sensor Film (LSF). Memang masyarakat awam lebih banyak belum mengetahui bagaimana cara dan tahap yang dilakukan Lembaga Sensor Film (LSF) dalam memberikan rasa keamanan pada tiap output kinerjanya. Diharapkan dengan acara Roadblog yang dilaksanakan di 10 kota tersebut maka masyarakat bisa lebih berkerjasama dengan pihak terkait untuk melaksanakan dan mengembangkan Budaya sensor mandiri.

Budaya sensor mandiri bisa dilakukan secara terus menerus dalam keluarga maupun saat kita berada di luar ruangan. Tentu Lembaga Sensor Film (LSF)sudah menyediakan piranti yang membantu tiap orang tua agar bisa memilah dan mendidik putra-putrinya dalam melakukan budaya sensor mandiri.


Berikut contoh pelaksanaan budaya sensor mandiri:
1.Dampingi putra-putri Anda saat akan melihat tayangan televisi, film dan internet.
2.Perhatikan klasifikasi tayangan yang akan ditonton. GA( Untuk segala umur) akan lebih baik dipilih sebagai tontonan.
3. Berikan pengetahuan dan konsep yang benar bila ada tayangan yang ditanyakan oleh puta-putri Anda.
4. Jangan sibuk dengan gadget Anda selama tayangan berlangsung.
5. Ajaklah putera-putri Anda berpendapat tentang tayangan yang sudah selesai ditonton.
6. Jaga ucapan dan perilaku Anda agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang sudah Anda diskusikan.
7. Disiplinlah.
Mudah bukan melakukan budaya sensor mandiri. Mari bantu pemerintah dan diri kita sendiri dengan mengembangkan budaya sensor mandiri.

Image: LSF, Vika Kurniawati
#AYOSENSORMANDIRI