Rabu, 14 November 2018

Sisi Romantisme Jakarta saat Bermalam di Apartemen Idaman

Apartemen. Doc: https://jendela360.com

“Beneran, kita menginap di apartemen bukan di stasuin Pasar Senen seperti rencana awal?”  Dan buru-buru tiket kereta api untuk 30 hari ke depan  kami lunasi melalui transaksi antar rekening bank. Saya, dan empat teman memang mempunyai rencana menginap di stasiun begitu acara di Jakarta selesai; namun berita dari seorang sahabat di Sunter membuat rencana itu berganti.  Yogyakarta ke Jakarta menghabiskan delapan jam perjalanan dengan kereta api.

Sebenarnya bukan hal yang baru bila saya menginap sekitar tiga sampai lima jam di ruang tunggu stasiun kereta. Sekitar lima tahun yang lalu, ketika stasiun belum selengkap sekarang fasilitasnya, saya sudah duduk manis di bangku ruang tunggu dalam keadaan tidur. Apalagi sekarang saat stasiun kereta sudah lebih terjamin baik dari segi keamanan maupun fasilitas. 

“Tidak usah tidur di stasiun, begitu acara selesai jam berapapun, kalian langsung naik taksi ke apartemen. Iya aku rencana awal aku sewa apartemen di Jakarta Pusat tapi lebih dekat kalau di Central Park saja. Sudah ada kamar lengkap AC, bathroom dengan shower plus air panas, view nya juga pasti mba Vika suka. Pokoknya harus menginap sana ya! Tenang aku yang deposit dananya.”

Gerbang masuk tower. Doc: https://jendela360.com

Kemudian mana mungkin saya menolak tawaran emas untuk merebahkan badan yang pasti lelah setelah padatnya acara di Jakarta.  Spring bed empuk serta AC tentu berbeda jauh dengan bangku ruang tunggu stasiun kereta. “Baiklah, kami akan menginap di apartemen namun esoknya kamu datang kan?”

“Iya, sengaja aku sewa apartemen Central Park agar dekat dengan mall, jadi siangnya kita bisa makan siang di sana. Hanya tinggal jalan lima menit sudah sampai jembatan penghubung apartemen dengan mall. Paginya aku jemput dengan taksi ya, kita berlima sarapan di Kota Tua saja. Mbak nanti aku ajak ke kedai kopi favoritku ya, tenang ada menu mie kok. Aman!”

Saya terdiam membaca percakapan via media text percakapan berwarna hijau; dia sudah menyiapkan semuanya. Sejauh ingatan, memang baru pertama kali ini saya mendapat tawaran menginap di apartemen, bisanya pilihannya antara hotel atau rumah teman. Tawaran ini seperti keruntuhan durian matang tanpa harus menanam. “Memang bisa disewa permalam? Bukannya perbulan ya?”

“Bisa kok, sepupuku menyewakan untuk teman-teman dekatnya saja.” Sederet kalimat menyembul beberapa detik setelah aku bertanya melalui beberapa tombol.  Pertanyaan sekaligus pernyataan kemudian menyusul, “Baiklah, nanti sebelum ke apartemen, kami akan membeli beberapa stok makanan dulu ya. Ada dapur kan?”

Gedung Central Park. Doc: https://jendela360.com


“Tidak usah beli. Sudah aku siapkan semua. Kulkas sudah berisi buah-buahan, gas sudah tersedia, galon air mineral sudah diantarkan. Mba hanya perlu bawa diri saja.” Lagi-lagi saya termangu, bisa dibayangkan bagaimana saya akan menikmati tidur dengan tenang lengkap perut kenyang. Saya tak sabar saat itu untuk berangkat ke Jakarta.

Sesampainya di apartemen yang memang terletak tak jauh dari bangunan mall serta jalan tol, kami sudah ditunggu oleh saudara sepupu sahabat saya. Mengantarkan melewati security chek menuju kamar dengan mengesekan kartu khusus penghuni di lift pribadi. Sangat privasi ternyata. Jarum panjang pada jam tanganku sudah bergerak ke angka 12, dan jam pendek berhenti di angka 11.


Tak berbeda dengan harapan di kepala saat kami sampai di dalam kamar. Badan yang letih segera mendarat di sofa empuk yang memanjang di depan televisi LCD dengan program internasional. Salah satu teman berinisiatif memasak beberapa mie instan yang sudah tersedia disamping tumpukan roti lengkap dengan perlengkapannya. Kotak kopi, gula pasir, dan teh sachet juga menyapa kami di meja dekat dapur. Saya memutuskan membersihkan keringat terlebih dahulu dengan mandi air hangat sembari menunggu mie instan sudah siap. Syukurlah, kamar mandinya juga bersih serta luas, sehingga bisa sedikit berlama-lama. Memanjakan diri sekali-kali bolehkan?

Apartemen Central Park. Doc: https://jendela360.com

“Mba, mie ma kopinya sudah siap. Mau makan di sofa atau di luar? Bintangnya nampak loh!” Pertanyaan yang membuat saya segera bergegas keluar (setelah berpakaian tentu saja) dan menuju  arah suara yang memanggil menggoda. Dan benarlah sudah, teman saya sudah duduk di bungalow sembari menghirup teh  panasnya. Saya menyusul dengan mug kopi panas di tangan kanan. Bintang terlihat berkerumun beberapa depa di ujung bangunan yang menyembul. 

“Ternyata Jakarta punya sisi romantis ya mbak.  Tak salah sahabatmu sewa apartemen di sini. Mobil-mobil hanya terlihat seperti laron padahal 20 menit lalu kita di dalamnya.” Saya mengangguk, Jakarta terasa berbeda saat berdiam di bungalow apartemen ini. Bukankah itu merupakan sebuah idaman bisa terlelap dengan tenang di Jakarta yang tak berhenti bergerak?