Penerjemahan Sila Pancasila di Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila

Para peserta dan nara sumber. Doc: Pribadi

"Kok tidak ada pengucapan sila-sila pancasila?" Dan saya tersenyum simpul, sama seperti saat mengikuti Persamuhan Pembakti Desa di Anyer, Banten. Yang hadir adalah nyanyian Indonesia Raya serta materi pembicara yang menggali alam bawah sadar kita tentang penerjemahan sila pancasila dalam laku. 

Bukankah pengucapan bisa dihapalkan sendiri, namun laku terjemahannya terkadang susah dipraktekan?  Nah persamuhan ini menjadi salah satu media prakteknya.Saya yakin para guru sudah khatam kosa kata lima sila pancasila. Bukankah begitu?

Persamuhan nasional besutan BPIP



Memang paling menyenangkan bisa mengamati aktivitas pahlawan tanda jasa  dari fajar hingga bintang bersinar Sama seperti yang saya dapati saat Persamuhan Nasional Pembakti Desa. Lebih mudah mengkritik daripada melakukannya sendiri memang. Menurut saya sih persamuhan baik lintas provinsi maupun lebih lokal akan lebih baik diperbanyak kuantitas sepadan dengan kualitas. Salah satu alasannya karena setiap individu juga perlu "Me Time" agar lebih upgrade diri maupun berbaur dengan sejawatnya, bukan bersaing namun kolaborasi.


Dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) berhasil menjalinkan benang merahnya agar sila pancasila dipraktekan secara massif namun elegan. Bukan tong kosong nyaring bunyinya.Ideologis yang sejati bukan diukur dengan fasihnya hapalan, teriakan sila persila namun tindakan moral apa yang sudah dilakukan. Mungkin metodenya sedikit condong versi milenial ya, sehingga generasi baby boomers mengalami kecanggungan. Ah proses menuju revolusi 4.0 memang penuh dinamika, dan perlu energi lebih untuk bisa adaptasi.



Saya sih dulu hapal sila pancasila di luar kepala, namun kok ya sekarang memerlukan teksnya daripada malu kelupaan.Dan saya sempat sedih saat menemukan beberapa oknum peserta sibuk sendiri saat lagu Indonesia Raya dinyanyikan bersama. Atau saat bunga-bunga di meja dialihkan ke tangan walau bukan miliknya.

Hal lain biarlah saya simpan di hati, toh manusia memang tak sempurna(manusia sekali ya karena terus membela diri). Yang satu tidak hapal sila, yang satu lupa mengamalkan, sama saja? Penggunaan helm saja kadang  digubris sewaktu ada polisi, apalagi moral yang entah siapa yang mengawasi.

Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila



Saya bersyukur hanya menemukan segelintir oknum, namun bersua dengan banyak peserta yang memang berjiwa pengajar. Sama seperti para pembakti desa yang mengerahkan tenaga dan ilmunya untuk perkembangan positif desa, begitu juga guru. "Bagaimana bisa saya menugaskan murid membuat video, bila saya sendiri bisa membuat?" Jawaban dari Bu Herlina Gorontalo yang membuat saya tersenyum puas karena mengobati rasa sedih saya. 

Pertanyaan yang berasal dari penasaran, "Bu Lina kenapa rajin ikut kelas online guru? Capek- capek belajar hal baru setelah mengajar!" Imbuhnya setelah jawaban pertama, " Lagipula kelas versi web binear jadi bisa sembari buat sambal atau mencuci piring.Yang penting komunikasi lancar, sampai-sampai saya memasang dua provider di gawai untuk berjaga kalau  jaringan lambat loh!"

"Emangnya ada sertifikat?" Pertanyaan di atas peraduan yang entah kenapa membuat saya tetap terjaga walau jam biologis sudah memanggil. "Ada, bisa membantu kenaikan pangkat namun ya itu bertahap."  Dan tepat pukul 01.00 WIB, kami memutuskan memejamkan mata, namun tiga jam kemudian saya melihat bu guru itu menyetrika baju daerah. Upacara akan diikuti 500 guru perwakilan 34 provinsi dengan busana tradisional daerah masing-masing.Saya memilih memakai kemeja motif batik. Tanggal masih 29 November 2019, sama seperti waktu kedatangan saya ke Surabaya dari Yogyakarta.


              

"Pria Aceh itu sopan santun, duduk berdampingan dengan istri saja enggan.Jadilah saya yang kerap menggoda suami kalau dia pulang kerja. Jangan harap kata romantis tapi dia mau turun mencuci dan masak loh, vika!" Saya bergelak, stigma warga Aceh yang menakutkan luruh sudah. Berdiskusi tentang Cut Nyak Dien dan sederet pahlawan asal Aceh. Iya, malam 30 November saya beralih penginapan dan akan berbagi waktu dua malam ke depan dengan guru asal Aceh. Saya bersyukur bisa berdialog lama dengan dua guru beda daerah. Informasi sederhana namun penting tersampaikan langung.

"Kasih kabarlah jika ke Aceh, nanti kita bisa ke salah satu pulau yang ada pusaran airnya." Perempuan paruh baya yang memilih sarapan buah mengajak saya berkunjung tanah kelahiran seraya merebahkan diri di peraduan. "Saya harus pakai rok dan penutup kepala ya bu?" pertanyaan terluncur saat saya menuangkan air panas untuk diminum bersama. Saya kopi, Bu Vitri cukup air panas saja. Ah dua generasi yang berbeda.


"Kalau pendatang tak harus, hanya kebanyakan orang bule memakainya sebagai tanda hormat pada adat." Dan lagi-lagi jam biologis saya tak tertepati, padahal pukul enam pagi harus siap di  lapangan tenis bersama Uni Papua. Iya Uni Papua yang menelurkan banyak putra   harapan Indonesia dari Papua di bidang olahraga sepak bola. Saya akan menuliskannya di artikel terpisah yak 

Dan tibalah pada acara puncak Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila yang dihelatkan tanggal 29 November-2 Desember di Shangrilla, Surabaya. Mulai dari riuhnya tepuk tangan untuk Bu Risma selaku walikota Surabaya hingga pertunjukan seni Sujiwo Tejo. Semua tidak mengucapkan sila Pancasila namun perwujudan laku mereka walau berbeda metode sesuai kompetensi masing-masing. 


Kesimpulan


Khusus pertunjukan seni Sujiwo Tejo, sebenarnya jawaban semesta atas seloroh saya beberapa waktu. Ingin menyaksikan seniman jebolan jurusan matematika tersebut secara langsung. Nuwun semesta. Akhir kalimat, saya percaya pengajar apapun bidang ilmu bahkan yang tak menyandang profesi guru, tetaplah pelita dan penjaga ruh ideologis para murid. Jadi tepatlah BPIP menggelar persamuhan nasional bagi para guru lintas provinsi.
   
“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia."

Ketemu lagi artikel saya tentang persamuhan berikutnya ya.Terima kasih







Author

vika vika Fiksioner is a free template that suitable for personal blogging because the layout is like a journal.

2 komentar

  1. Ehm, rada rawan mengungkapkan "baby boomers" karena banyak yg sensitif. ahahha. eh ini bercanda ya mb Vika :)

    Penerapan Pancasila emang susah banget, meski terlihat sederhana di dalam teks. Sila 1 relatif lebih mudah. Sila 2, 3 dan 5 yang menurut saya penerapannya lebih hati-hati karena saat ini semua hal bisa menjadi permasalahan serius, :(

    BalasHapus
  2. Nah itu dia tuh mba, kalo sekedar melafalkan Pancasila sih semua orang pasti fasih diluar kepala karena sudah dipelajari sejak kecil. Tapi kok ya, kalo udah harus praktekkin kok malah sulit. Apalagi orang jaman now suka seenak-enak udelnya sendiri

    BalasHapus

Posting Komentar