Sabtu, 01 Desember 2018

Percikan Pandan Mewangi di Kampung Kemuning Gunungkidul


Pemercik pandan. Doc:Riana Dewie

Percikan Pandan mengenai sedikit kulit lengan saya, namun lebih banyak mengenai helaian rambut. Permintaan saya untuk diberi percikan selamat datang diluluskan oleh wanita berkebaya biru muda dengan kombinasi kain batik. Saya dalam perjalanan berjalan kaki menuju Telaga Kemuning Gunungkidul.

Saya mengerti bahwa setiap daerah selalu mempunyai acara adat tertentu yang sering kali turun temurun dilakukan. Apalagi kalau bukan memang menjaga kelestarian kearifan lokal. Oleh karena itu dengan senang hati saya menerima percikan Pandan.

Keramahan warga


Pohon mangga di tepi jalan. Doc:Riana Dewie


Sebenarnya bukan pandan saja yang mewangi di kampung Kemuning, namun juga keramahan para warganya. Sepanjang perjalanan kami diberi kesempatan untuk beristirahat sejenak, mungkin mereka maklum jika medan yang dilalui berbeda dengan yang kami hadapi setiap hari.

Mangga yang ranum dengan tinggi pohon tak seberapa, menjadi obyek yang para penghuni Kampung Kemuning tawarkan kepada saya. Hati ingin menerima, namun ransel sudah penuh, padahal pesta Lutis mangga sudah di depan mata untuk dijalani.

Kebersihan Kampung Kemuning diajungin jempol 

Batu-batu sungai dijadikan landasan jalan dengan rapi di antara dua jalur yang sudah di semen, dan membuat para pengguna jalan mudah menapaki.  Selama perjalanan, saya mendapati mobil serta sepeda motor melaju tak menemui kesulitan.

Begitu juga yang saya dapati saat mendapati halaman rumah warga juga bersih, serta tidak ada aroma kotoran sapi atau ayam yang biasanya menjadi hewan peliharaan. Semuanya dijaga rapi baik yang terlihat maupun yang tercium. Yang ada aroma kayu, dan tanah khas pedesaan.

Bank Sampah


Bank Sampah. Doc: Vika

Saya jadi mengerti kenapa Kampung Kemuning begitu rapi. Terdapat bank sampah yang dikelola para ibu setempat yang berpusat di salah rumah warga yang mempunyai lahan luas. Bank sampah sendiri memang ditujukan untuk menciptakan kebersihan lingkungan sekaligus memberi nilai lebih bagi warga.

Mekanisme sebagai berikut:

1.  Warga mengumpulkan sampah plastik seperti kaleng minuman, botol air mineral, sachet sabun ataupun makanan. Hasil pengumpulan tersebut akan diolah menjadi bahan kerajinan yang akan dijual, dan pemasukannya dikembalikan pada warga.

2.    Pengumpulan dari rumah masing-masing menuju Bank sampah dilakukan saat sampah plastik dirasa sudah cukup untuk ditimbang.


3.     Penimbangan sampah dilakukan untuk mendata para penabung sampah.

4.     Sampah diolah lagi menjadi barang kerajinan.

Pisang Rool homemade


Pisang rool dalam kemasan. Doc: Riana Dewie


Saya menasbiskan diri sebagai food blogger sehingga setiap bertandang ke tempat yang baru, maka akan dipastikan mencari tahu tentang makanan khasnya. Camilan atau minuman pun akan saya kejar sampai dapat. Kalaupun bukan khas daerah tersebut, paling tidak olahan rumah para warga setempat.

Pisang rool menjadi sasaran saya saat disajikan di rumah warga yang menjadi sentra wirausaha Kampung Kemuning. Pisang hasil kebun warga disulap menjadi sumber income baru yang tentu bernilai lebih daripada dijual mentah.  Semua sudah dikemas dengan rapi, serta cantik. Memang warga Kampung Kemuning sudah paham ilmu marketing.

Gatot Geprek


Di pasar tradisional sekitar tempat tinggal saya masih mudah didapati penjual Gatot. Kudapan tradisonal berbahan singkong ini mempunyai warna serta aroma yang khas. Dibutuhkan kesabaran untuk bisa menghasilkan olahan Gatot yang enak. Terlebih karena masa fermentasi yang bisa mencapai satu bulan.

Saat mencoba Gatot yang disajikan warga Kampung Kemuning, saya ketagihan ternyata. Memang tampilan luarnya sama dengan Gatot biasa namun citarasa yang saya dapatkan beda. Lembut, dan kesegaraannya terasa lebih apalagi di sajikan dalam bilah bamboo yang sudah dibelah dua serta bersih. Enak!


Rumah Paud sudah berdiri

Suasana belajar. Doc:Riana Dewie

Paud atau Pendidikan Anak Usia Dini bisanya menyebar di kota. Mendapati rumah Paud di Kampung Kemuning merupakan salah satu hal yang membahagiakan. Memilih kuning sebagai warna rumah tersebut menjadikan kesan keceriaan terpancar. Bukankah demikian yang kita dapati juga dari anak kecil?

Paud ini juga bukti bahwa warga Kampung Kemuning mempunyai perhatian yang lebih dalam bidang pendidikan bagi anak-anak. Rumah yang dijadikan Paud juga dilengkapi dengan alat peraga pendidikan maupun sarana bermain motorik anak.

Posyandu lansia


Saya terbisa mendengar, dan melihat langsung Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) anak.  Kegiatan posyandu anak berkisar pemeriksaan kesehatan ibu dan anak. Bagi anak berupa penimbangan berat serta tinggi badan. Pembagian makanan penuh gizi serta imunisasi juga ikut serta dijadikan kegiatan tetap.

Di Kampung Kemuning ternyata Posyandu lansia juga dilaksanakan  teratur setiap bulan sekali pada tanggal 10. Pemeriksaan kesehatan berupa penimbangan berat serta tinggi badan menjadi jadwal tetap juga. Animo warga Kampung Kemuning juga bagus, terbukti jumlah lansia yang datang saat Posyandu lansia.


Asrinya Telaga Kemuning


Telaga yang mempunyai kedalaman 3 meter serta luas area 1 hektare ini mempunyai keasrian tersendiri. Jika anda pernah melihat oase di padang gurun, maka itulah gambaran yang tepat untuk Telaga Kemuning. Anda akan mudah merasa nyaman memancing ataupun melakukan kemping.

Lomba memancing sendiri diadakan pada hari libur ataupun adanya pesta adat dengan menebar ikan sekitar 1 ton. Begitu juga dengan kemping yang dibuka untuk umum sepanjang ada proposal ijin kepada pemangku jabatan Kampung Kemuning.

Kesimpulan


Telaga Kemuning. Doc: Penulis

Dengan semua alasan tersebut, maka anda setuju kalau bukan hanya percikan pandan saja yang mewangi di Kampung Kemuning yang dibina Astra dalam program Kampung Berseri Astra(KBA)? Oya kalau Kampung Kemuning tepatnya masuk dalam kecamatan Patuk kabupaten Gunungkidul Yogyakarta.  Kalau mau main ke sana, kabari saya ya.


#LFAAPAJOGJA